tak kubagi makanan pada yang menahan lapar
sebenarnya siapa yang kubiarkan lapar..
tak kuulurkan tangan sejuk pada yang sakit
sesungguhnya siapa yang kubiarkan sakit..
masih tak kusapa jiwa yang sepi..
entah siapa yang tak kupedulikan itu..
aku membiarkan diriku lapar
aku membiarkan diriku sakit
aku membiarkan jiwaku sepi
kau tahu.., aku menyakiti diriku sendiri..
nakjadimande
Pernahkah dalam hidup anda mengalami suatu momentum yang mungkin mengubah jalan hidup anda setelah mendengar atau membaca sepenggal kalimat? Setelah beribu-ribu rangkaian kata tidak mampu mendobrak pintu pintu hati anda?
Pernahkah dalam hidup anda menemukan sepatah dua patah kata yang selalu terngiang di telinga anda, terbayang di kelopak mata anda, menggelitik hati dan pikiran anda
yang membuat anda susah memejamkan mata pada saat anda mengantuk, susah menelan makanan saat anda lapar?
dan saya pernah, tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, diantaranya setelah saya membaca tulisan bundo nakjadimande diatas … dan komentar yang ada dipikiran saya pertama kali adalah hanya sekedar hmmmmmm …. sebagai tanda ketidakberdayaan untuk berkata-kata..
bagaimana dengan anda? pernahkan mengalami hal serupa?
Bayarlah kepada pekerja upahnya sebelum kering keringatnya dan beritahukanlah berapa upahnya, ketika dia masih bekerja.
(HR. Baihaqi).
Adakah diantara anda pernah memperkerjakan orang lain? taukah anda apa hak dan kewajiban anda sebagai orang yang memberi pekerjaan atau kita istilahkan dengan majikan?
Taukah juga anda apa hak dan keajiban orang yang anda pekerjakan?
Tentunya sang majikan tidak ingin dilanggar haknya, tapi sudahkan sang majikan ini tidak melanggar hak orang yg diberi pekerjaan olehnya?
Indah sekali saudara apabila kita faham hal-hal dasar seperti ini. Saya pikir tidak perlukan terjadinya demo disana dan disini apabila aturan yang sempurna ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Pernahkan anda mendengar ini saudaraku:
Dari Al-Marur bin Suwaid berkata,”Aku pernah melihat Abu Dzar Al-Ghifary r.a. sedang mengenakan sepotong baju jubah, juga budaknya yang mengenakan baju serupa. Kemudian aku menanyakan hal itu kepadanya. Jawabnya,”aku pernah mencaci maki seseorang, lalu orang itu mengadukanku kepada Rasulullah Saw kemudian Nabi bersabda, Apakah kamu menghinanya karena ibunya. Sesungguhnya kamu adalah seseorang yang pada dirimu terdapat jiwa jahiliyah. Kemudian Nabi menjelaskan, sesungguhnya saudara-saudara kalian itu pembantu kalian juga, yang Allah jadikan berada di bawah kekuasaan kalian. Maka barang siapa yang saudaranya di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya pakaian seperti pakaian yang ia kenakan, janganlah kalian bebani mereka dengan apa yang memberatkan mereka, karena jika kalian membebani mereka dengan apa yang memberatkan maka bantulah.
(HR. Bukhari Muslim).
apabila jawabannya iya, maka apakah yang menghalangimu untuk tidak mengikuti apa yang anda dengar itu?
** Itulah potongan percakapan antara saya dengan diri ini pada suatu saat ketika sepucuk surat elektronik menghampiri inbox gmail saya… yang pengirimnya adalah masih orang sama, Ia-lah rekan sekantor saya, dengan tag subjek yang sama (HADIST PILIHAN MNGGU INI – [Topik bahasan]).
Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur
dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya.
Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada
dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah?
Lagi.. saya mendapat kiriman email yang menarik dari rekan sekantor tentang… ehhmmm…. silakan dibaca aja dech
supaya afdol. Begini ceritanya:
Pada tahun 1969, saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di
pangkalan Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat
bersama dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang
tempat latihan terjun tempur.
Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di barak, kami
memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan ompreng dan atau
rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum berisi sayur, dan
disamping nya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu
setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang dijual kepada siapa saja
yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan jatah yang terasa kurang
lengkap bila tidak ada kerupuk. Sang ibu paruh baya ini, tidak pernah
menunggu barang dagangannya.
Setiap pagi, siang dan malam menjelang waktu makan dia meletakkan karung
plastik berisi krupuk dan disamping nya diletakkan pula kardus bekas rinso
untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah selesai waktu
makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa kerupuk dan kardus
berisi uang pembayar kerupuk.
Iseng, saya tanyakan, apakah ada yang nggak bayar Bu? Jawabannya cukup
mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia sudah
bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara demikian.
Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah semuanya selesai
makan dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk dan uang hasil
jualannya. Selama itu, dia tidak pernah mengalami defisit. Artinya tidak ada
satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar. Setiap orang memang dengan
kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar sesuai harganya. Bila dia harus
bayar dengan uang yang ada kembaliannya, dia bayar dan mengambil sendiri
uang kembaliannya di kotak rinso kosong tersebut.
Demikian seterusnya. Beberapa pelatih terjun, bercerita bahwa dalam
pengalamannya, semua siswa terjun payung yang berlatih disitu dan menginap
dibarak latihan tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar.
Mereka takut, bila melakukan itu, khawatir payung nya tidak mengembang dan
akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.
Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur
dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya.
Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada
dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah?
membaca tulisan diatas hati cukup tersentuh, berikutnya membuat saya berpikir dan mengakui kebenarannya…
adakah diantara rekan-rekan yang mengalami inspiring moment seperti saya saat menulis artikel ini?
Agama adalah nasehat….
Itulah penggalan hadist yang sangat masyhur dari rasulullah saw. Saya jadi punya ide setelah mendapat kiriman email berkala tiap minggu dari rekan sekantor yang subject-nya selalu sama : “HADITS PILIHAN MINGGU INI: (topik hadist)”.
Saya beripikir kalo ini bermanfaat buat saya sepertinya akan bermanfaat pula bagi orang lain yang mencari hal yang serupa.
Namun demikian saya bukanlah ahli ilmu.. sayang sekali memang…
jadi disini saya hanya akan menuliskan apa adanya seperti yang saya dapat dari email… Semoga bs bermanfaat dan atau ada rekan-rekan yg dapat menjelaskannya melalui komentar sehingga akan menambah manfaatnya berlipat-lipat.
Dari ‘Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Jika mengantuk salah seorang dari kamu dalam mengerjakan sholat hendaklah ia tidur sehingga hilang rasa kantuknya. Sesungguhnya jika seseorang mengerjakan sholat dengan mengantuk, jangan-jangan ia akan membaca istighfar lalu mengigau mengumpat dirinya sendiri.”
(dishahihkan Bukhari – Muslim)
Dari Anas r.a. berkata, Nabi saw masuk masjid tiba-tiba beliau menemukan tali yang terulur di antara dua tiang. Nabi saw bertanya, “Tali apakah ini?” Jawab orang banyak, “Tali kepunyaan Zainab kalau ia merasa capai berdiri sholat, ia berpegangan dengannya.” Maka Nabi saw bersabda, “Lepaskan tali itu. Hendaklah sholat dilakukan dalam keadaan tangkas, cekatan dan apabila letih (mengantuk) hendaklah tidur.”
(dishahihkan Bukhari – Muslim)