Taqdir (?)
Pada satu hari di bulan April 2010, di Universitas Paramadina diadakan seminar mengenai pencak silat, yang mempunyai hajat adalah rekan-rekan dari Margaluyu Pusat. dalam seminar sehari (ga sampe sehari sebenarnya
), rekan-rekan dari Margaluyu Pusat ini mengajak kepada Aliran Pencak Tradisional lain untuk urug rempug dalam silaturahmi tersebut.
dalam acara tersebut cukup banyak tetua-tetua aliran pencak silat yang namanya cukup dikenal, termasuk ada Pak Oong Maryono (beliau adalah peneliti pencak silat asal Jawa Timur, juga pelatih Nasional Thailand dan Vietnam). Disana terlihat pula Kang Awang (Rakawira Gerak Gulung Budi Daya), juga ada Pak Bambang (Cingkrik Goning), Bapak Edward Lebe (Baringin Sakti pencak Silat), dan beberapa tetua yang lain, juga tidak ketinggalan teman-teman dari Komunitas Pecinta dan Pelestari Pencak Silat Tradisional Indonesia.
Acara berlangsung cukup meriah, berkat arahnya untuk dibuat interaktif. Di dalam seminar tersebut tidak hanya pembahasan verbal tetapi juga melibatkan aktifitas gerak.
Hingga pada suatu ketika……..
tibalah saatnya seorang tetua perguruan yang cukup dikenal nama besarnya di Indonesia, bahkan ke luar negeri, memberikan “petunjuk” kepada peserta seminar dan khalayak yang hadir saat itu. Peragaan yang ditampilkan adalah pada tatanan aplikasi, maka naiklah seorang peserta mahasiswa untuk “berdiskusi” gerak dengan sang tetua tersebut.Sungguh diluar dugaan…., pada saat “tempelan” sang guru dapat dijatuhkan oleh anak muda tadi, kemudian dengan kebanggaan yang sangat ditambah dengan seringai kemenangan sang mahasiswa menaikan bahunya (yang dibaca oleh kawan-kawan dari forum) sebagai tanda “meminta” yang lebih dari itu. Tak ayal hal tersebut membuat beberapa rekan naik pitam, tetapi untungnya yg lain bisa mengendalikan keadaan.
Kejadian diatas sungguh mengandung banyak pelajaran dan nasihat kalo saya pikir. Ada bebarapa point penting yang menimbulkan beribu tanya di benak saya ……
Kenapa sang guru bisa jatuh?
apakah sang pemuda lebih tinggi ilmunya atau sang guru yang justru mengalah?
ataukah sang guru sengaja memberi “angin” sebagai tanda kerendahan hati?
kenapa sang pemuda memperlihatkan kebanggaan yang (maaf) tengil?
kenapa tidak ada “belaan” dari sang guru yang akan “menyelamatkan” mukanya?
apakah sang guru justru meremehkan “lawan” yang justru berbalik kedirinya?
ataukah ini hanya sebuah peringatan dari sang “Penguasa Gerak” untuk sang guru?
atau cobaan bagi sang guru?
dan beribu pertanyaan lain hilir mudik di benak saya.
Namun kemudian saya teringat akan suatu kata, taqdir …….
Saya teringat akan perkataan teman saya yang berilmu:
“manusia akan lari dari satu taqdir Allah ‘azza wajalla ke taqdir Allah yang lain”…
“Tolaklah taqdir Allah dengan do’a, karena do’a bisa membuat seseorang mendapat taqdir yang lain”
mungkin memang takdir sang guru untuk jatuh… yang dengan itu akan membawanya kepada suatu taqdir Allah yang lain…
mungkin memang taqdir si pemuda untuk “berpikir” akan kejadian yg baru saja dialaminya, karena sepertinya bukan hal yang sulit bagi sang guru untuk mencelakai si pemuda…
dan mungkin ini adalah taqdir saya untuk mendapat pelajaran yang sangat berharga yang belum tentu dapat diambil hikmahnya oleh orang lain … (aahhh.. betapa beruntungnya saya ya..??)
wallahu ‘alam bishowab
hanifilham
mungkin memang Allah memberikan sebuah kejadian dimana yang menyaksikan dapat mengambil pelajaran. entah dari tetua maupun dari yang muda, sama2 mengambil pelajaran.
Deni Santana
saya setuju mas Hanif…
dan orang yg beruntung adalah orang yg dapat mengambil pelajaran.. hatta dari anak kecil sekalipun…
(kan katanya begitu ya..?)
delia
terdiam mebaca artikel ini…
Deni Santana
saya yakin diamnya mba delia adalah diam yang penuh makna
jarwadi
Boleh nanya, apa sih beda antara nasib dan takdir?
Ngomong ngomong tentang pencak silat Margaluyu jadi ingat akan maraknya pencak silat di tahun SMP saya. Entah sekarang mengapa disini pencak silat kurang populer lagi
sayang …
Deni Santana
perbedaan nasib da takdir? waduh pertanyaan berat neh… insya Allah ini PR buat saya.. untuk saya tanyakan kepada pihak yg lebih kompeten untuk menjawabnya ..
pencak silat sepertinya akan marak lg mas.. (PD mode:ON) … insya Allah.
kalo di DKI Djakarta sudah ada surat keputusan Gubernur untuk menjadikan pencak silat sebagai kegiatan wajib di sekolah-sekolah (mungkin seperti wajibnya orang jepang mempelajari kendo atau judo di sekolah-sekolah mereka)..
oya kalo sering ngefesbuk
… disana ada group yg bernama gps (gerakan peduli silat) sebagai langkah teman-teman Forum Pelestari dan Pecinta Pencak Silat Tradisional Indonesia untuk “mengenalkan” kembali silat sebagai budaya bangsa kepada khalayak.
senyumanpagi
doa mengubah takdir
Deni Santana
itulah yg pernah saya dengar ….
kawanlama95
Namanya guru sudah berumur, dan anak muda tenaganya lebih kuat. Salam sehat selalu
Deni Santana
Bisa jadi juga memang begitu…
Salam juga untuk anda, terima kasih sudah berkunjung
rumah-sehat afiat
Mungkin dengan kekalahan sang guru itu sebuah pengajaran untuk sang murid dalam menghadapi kemenangan. Salam sehat selalu. mas tukeran link yuuk